"Kehidupan kontemporer dapat diibaratkan dengan kehidupan di mall: ramai, banyak pemandangan, segalanya cepat berlalu, dan karena itu, apabila dimetaphorakan, kehidupan kontemporer pada hakikatnya bukan lukisan, namun sketsa. Itulah yang dengan cerdik telah diangkat oleh F.X. Rudy Gunawan. Kehidupan kontemporer di Indonesia benar-benar didominasi oleh politik, kendati mungkin dalam kehidupan sehari-hari tidak nampak. Begitu banyak anomali terjadi, baik anomali yang diperpolitikkan maupun anomali yang muncul karena politik. Banyak tindakan yang nyata-nyata merupakan kejahatan, namun tidak dirasa sebagai kejahatan dan tidak mungkin dibuktikan sebagai kejahatan. Ini pulalah kehidupan yang diangkat dalam Koma." [pengantar Budi Darma] * “Kamu takut mati?” “Mati?” “Ya, mati. Em-a-te-i.” Ratusan mayat berserakan. Membusuk. Sekawanan babi hutan menggerogoti sisa-sisa daging yang masih melekat di onggokan mayat. Orang-orang mengais-ngais, mencari cincin, jam tangan atau kalung emas yang masih lekat di mayat-mayat itu. Mereka menutup hidung dan mulut dengan lilitan kain seadanya. Handuk kecil, sobekan kaos, atau saputangan. Hanya mata yang nyalang mencari. Kilatan sorot mata dingin. Hitam. Mereka mengorek-ngorek mayat dengan potongan ranting, besi bekas payung, atau gagang sapu. [petikan novel k-o-m-a] A must-read book! Dapatkan di toko-toko buku terdekat. NOW on bookstores!
Sidik Penyidik di Balik Kelambudimuat di rubrik Sikap , VHRMedia.com Skandal seks pejabat negara kembali terjadi. Mengguncang kepercayaan masyarakat pada kredibilitas Komisi Pemberantasan Korupsi yang selama pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono berhasil mendapat... more
| ||||||||||||||||||||
|
| |||||||||||||||||||



